Hari Raya Nyepi

Dengan brata penyepian manusia dapat mengendalikan musuh-musuh dalam dirinya, sesuai dengan pedoman yang dikeluakan oleh Parisadha Hindu Dharma Pusat, umat hindu dalam merayakan hari raya Nyepi yang sudah menjadi keputusan presiden No. 3 tahun 1983 bahwa hari raya Nyepi semenjak pergantian tahun caka 1904 ke tahun caka 1905 menjadi hari libur nasional, hari raya Nyepi terkenal dengan Catur Brata Penyepian

1. Amati Geni : tidak menyalakan api atau lampu

2. Amati Pekaryan : tidak melakukan suatu pekerjaan

3. Amati Lalanguan : tidak berhura-hura / bersenang- senang

4. Amati Lelungan : tidak berpergian

“Ragadi musuh maparo ri hati ya tonggwanya tan wadoh ring awak”

Yang artinya :  Raga (Nafsu) adalah musuh utama, tidak jauh dari badan, dihati tempatnya.”

Disini semua brata penyepian itu kalau kita bias melaksanakan berarti kita sudah mengekang nafsu, nafsu yang bersumber dari hati kita yang bersemayam pada Ctula Carira kita masing-masing. Musuh musuh dalam diri manusia

A.Sad Ripu

B.Sapta Timira

Sad Ripu

Setiap manusia pada dasarnya suci, karena atma yang menghidupi manusia itu berasal dari yang maha suci yaitu Brahmnaatma, itu sebabnya setiap manusia nenginginkan kesucian. Dari adanya keducian inilah maka manusia pada saat sadar dan menyadari dirinya , ingin dia berbuat baik dan tidak dikatakan menjadi curang dan tidak baik. Namun demikian oleh karena adanya misuh ada masing-masing manusia yang selalu dan setiap saat timbul, bila kesadaran seorang menurun yang menmbulkan perbuatan yang tidak baik, maka sangat perlu musuh musuh itu dikendalikan. Musuh musuh yang terdiri dari 6 musuh yang terkenal dengan Sad Ripu adalah :

1. Kama artinya hawa nafsu, Kama berarti hawa nafsu, hal ini ada pada setiap orang dan dapat menjadi musuh setiap indifidu selama belum dapat dukuasainya kalau nafsu itu dapat dikendalikan merupakan teman akrab bagi kehidupan manusia.

2. Loba artinya tamak / rakus, Loba atau tamak menyebabkan orang tak pernah merasa puas akan sesuatu, orang yang loba ingin selalu memiliki sesuatu yang banyak dan lebih dari pada apa yang telah dimiliki

3. Krodha artinya kemarahan, Kroda sering diartikan marah, kemarahan timbul karena pengaruh perasaan yang jengkel, muak osan dan sebagainya

4. Moha artinya kebingungan, Moha artinya kebingungan, karena bingung menyebabkan pikiran menjadi gelap

5. Mada artinya mabuk / foya-foya, Mada artinya kemabukan, minuman sangat digemari orang, minuman keras dapat menyebabkan kita mabuk, karena mabuk pikiran orang menjadi gelap

6.  Matsarya artinya iri hati, perasaan iri hati ini adalah dimana perasaan tidak senang melihan orang lain lebih dari dia, atau tidak senang melihat orang menyamai dirinya.

2. Sapta Timira

Sapta timira artinya 7 kegelapan, yang dimaksudkan dengan 7 kegelapan ini adalah 7 hal yang menyebabkan pikiran orang menkadi gelap. Kegelapan pikiran ini, dapat menimbulkan tingkah laku yang tidak patut dan menyimpang dari tingkah laku yang baik dan benar. Kegelapan yang timbul dari sapta timira yaitu,

1. Surupa Kebagusan atau kecantikan dibawa sejak lahir, merupakan anugrah tuhan yang maha pengasih dan penyayang

2. Dana Kekayaan sungguh berguna bagi siapapun, setiap orang menginginkan hal itu, karenanya orang berlomba lomba berusaha dengan berkenja keras untuk dapat memiliki kekayaan

3. Guna Kepandaian ini mirib dengan kekayaan tersebut diatas. Hendaknya kepandaian ini diamalkan untuk kesejahtraan orang banyak, janganlah kepandaian ini dipergunakan untuk sewenang-wenang. Menindas orang yang lebih bodoh dan sebagainya

4. Kulina Memiliki arti yang penting karena dari keturunan siapa leluhurnya, ia akan dapat dikenal siapa dirinya sebenarnya

5. Yowana Masa muda atau masa remaja ini penuh dengan kegairahan hidup, masa gemilang penuh kreativitas, masa kekuatan dan kecerdasan sedang hebatnya

6. Sura Dengan minuman keras seperti Tuak, Arak + methanol, Berem, Beer dll, menyebabkan manusia mabuk bila diminum berlebihan

7. Kasuran Setiap orang perlu memiliki keberanian, tanpa adanya keberanian setiap orang akan selalu merasa menderita, hidup ini adalah suatu perjuangan, karenanya keberanian adalah penting.

Diringkas oleh : I P Danan Krisnadi R

Sumber : Nyepi Caka 1910. penyebaran kator departemen agama jembrana, Doktik 8 Feb 88

Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi, Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi dimasa lampau dan merencanakan Trikaya Parisudha dimasa depan.

Di hari itu pula umat mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Dengan amati pekaryan, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan Samadhi, dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi, pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan akan mengurung diri sendiri di suatu tempat tertentu untuk melakukan tapa, berata, yoga, samadhi. Tempat itu bisa dirumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indria. Kemampuan mengendalikan Panca Indria adalah dasar utama dalam mengendalikan Kayika, Wacika dan Manacika sehingga jika sudah terbiasa maka akan memudahkan pelaksanaan Tapa Yadnya.

Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan, pada Hari Nyepi seharusnya kita melakukan Upawasa atau berpuasa menurut kemampuan masing-masing

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi Ritual (Upacara) sehingga segi-segi Tattwa dan Susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah melaksanakan ajaran Agama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja

Manusia yang pendakian spiritualnya cukup akan mencintai Tuhan (Hyang Widhi). Cinta kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas disebut “Bhakti”. Ruang lingkup ini misalnya : Bhakti kepada Tuhan, negara, bangsa, rakyat, dll. Tinjuan khusus tentang bhakti kepada Hyang Widhi, wujudnya adalah kasih sayang kepada semua ciptaan-Nya yaitu mahluk hidup : manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan; demikian pula kepada ciptaan-Nya yang lain misalnya alam semesta, Filsafat Tattwamasi merupakan panduan yang bagus kearah ini

Masyarakat yang individu-individunya telah mampu melaksanakan ajaran Agama dengan baik akan mewujudkan keadaan yang disebut sebagai Satyam, Siwam, Sundaram, yakni masyarakat yang saling menyayangi sesamanya, kebersamaan yang harmonis dan dinamis, berkeimanan yang kuat dan sejahtera lahir-bathin, sebagaimana bunyi slogan : “Sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sampranaya, saling asah, saling asih, saling asuh” Artinya : bersatu-padu menyusun kekuatan menghadapi ancaman/bahaya, memutuskan sesuatu secara musyawarah mufakat, saling mengingatkan, saling menyayangi dan saling membantu

Kebersamaan dalam bentuk paguyuban berguna sebagai wadah demokrasi karena konsep “Paras-paros sampranaya”  dijalankan. Ini akan membentuk tatanan kehidupan yang moderat dimana terjadi brainsforming dalam memutuskan sesuatu demi kepentingan bersama. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa perjuangan dalam bentuk apapun hanya akan berhasil jika dilakukan dengan kesadaran kebersamaan yang hakiki diantara kelompok pejuang. Demikian pula hal yang patut dilakukan oleh umat Hindu dewasa ini, jalinan kebersamaan hendaknya makin diperluas mencapai tahap internasional agar dapat memberikan manfaat yang tinggi bagi kemajuan umat Hindu.

Demikianlah sebagai kesimpulan terakhir melaui brata penyepian hendaknya kita bisa mengendalikan diri, bisa menekan hawa nafsu yang bersumber pada diri kita sendiri yang berasal dari Sad Ripu dan Sapta Timira dan dapat memupuk kebersamaan dalam lingkungan terkecil sampai lingkungan internasional agar rasa kebersamaan kita tidak terpecah. Demikianlah semoga bermanfaat.

Untuk dapat membaca lebih jelasnya silahkan download Artikel ini dengan format PDF, Pada Hari Raya Nyepi.pdf

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.